Arghhh… kalo baca opini politika-nya bung BUDIARTO SHAMBAZY itu … gw seringkali bergidik karena pedas, lucu, menggatal, marah dan motivasi campur aduk… muka ini rasanya ditampar pas hari ini baca tulisan bung ini yg berjudul “Murphy’s Law“…
Dalam tulisan itu, bung Budiarto menyinggung kebiasaan pengayom dan warga kita sendiri yang ga pernah tuntas dan ikhlas mengulas masalah-masalah “culas”… sepertinya kehidupan politik negeri ini cuma dikemas seperti infotainment saja.
Akibatnya media yang latahan juga diam-diam, atau lansung ga lansung telah mensosialisasikan proses komunikasi yang kurang sambung rasa… Perasaan dan Komitmen kita seperti putus-sambung bak orang linglung, ya ini negerinya orang linglung yang doyan jumping kesana kemari tapi teteb looping (maju mundur naek turun yg cenderung stabil a.k.a poco-poco puter ditempat)
Lalu apa hubungannya dengan gw ? barangkali celetukan bung Budiarto soal komunikasi kita yg kurang mempunyai sambung rasa itu tadi… menjawab beberapa “kekesalan” pribadi dan dalam ruang lingkup politik pribadi juga ya?
Barangkali gue kurang berwibawa dan terlalu cerewet (a.k.a kritis) kalo ada kolega gw yg berlaku “salah” atau “gak nyambung” pada kaidah2 yg sudah seharusnya diterapkan. Misalnya:
… Alkisah di sebuah kelab tennis, ada rekan gw yg sebetulnya ga bodo soal keuangan selalu mengeluh: uang kas kurang, pemakaian ball-boy & bola terlalu boros, dan iuran anggota minta naik terus2an. Tentu sbg anggota junior yg perhatian dan ga terlalu bodo juga, gw usulin lah bikin laporan kas yg transparan dan bikin mereka ngarti kenapa iuran memang harus naik… dan anggota lain setuju dg antusias… Karena Solusi yg ga terlalu luar biasa bukan? tapi buntutnya temen gw itu “mogok” dan menyerahkan semua tanggung jawab pengelolaan kas itu ke gw sendirian tanpa ada niat saling bantu. Walao gw berhasil mewujudkan konsep transparansi keuangan di kelab tenis tsb, tapi tetap gak ada yang mau bantu secara tulus untuk mewujudkan konsep transparansi itu jauh lebih baik lagi… lucu ya? saudzon gw berasa dikerjain aja? memberi inputan kok yg diberi inputan berasa di”kudeta” … lucunya
… Alkisah disebuah diskusi reuni alumni kampus, sebagai alumnus gw menyampaikan sebuah inputan tentang mengapa, dan bagaimana komunitas alumni kampus tsb begitu “melempem” (digigit ga enak dibuang sayang) misi-visi-aksinya selama ini. Selanjutnya seperti biasa, gw usulinlah berbagai ide kepada pengurus untuk kembali menyusun misi-visi-aksi yang lebih berimbang dan nyambung, jadi anggota alumni ga pada bingung… buntut-buntutnya sekali lagi mereka bukannya mencoba proses usulan tsb jadi nyata, tapi dengan gampang-gampang sinis mau sekedar menunjuk gw sebagai penanggung jawab, dan mereka sekedar jadi “pembantu” *halah*, sekali lagi inputan/ usulan barangkali dipandang pengurus seperti “kudeta” ? lucunya!
… Alkisah lain lagi di sebuah perusahaan, gw berkiprah sebagai Web Apps analyst/ technical project manager dalam dept.IT. Ketika sebuah produk situs Intranet dan Web perusahaan tsb secara teknis berhasil, ternyata dept. lain yg berfungsi sebagai agent of changes kepada karyawan nggak negh atas proses update dan program pencerahan kepada stakeholder ttg pemakaian media tsb. Sebagai salah satu anggota Project pembuatannya, tentu gw kembali bawel consistently mengusulkan kepada para dept. terkait ttg: tata-cara dan metode pemeliharaan konten yang sesuai buat kondisi/ keinginan para stakeholders, dan jikapun resourcenya ga cukup, sebaiknya segera hire konsultan atau tenaga yg berkompeten soal itu. Usulan yang wajar bukan? Buntutnya tiba-tiba jabatan gw di mutasi sebagai knowledge mgt manager dalam dept. Corp.Comm. yang pekerjaannya memaintain konten sekaligus melakukan pekerjaan di dept. lama (maintain technical jobs) sendirian tanpa bantuan! Ah lucunya… :p
Yah… 3 alkisah diatas memang pelajaran yang paling menyolok dalam karir dan pergaulan gw, ketika para pengayom dan warga kita memang lebih suka komunikasi satu arah satu rasa dalam musyawarah… lalu ada fakta-fakta berbagai rasa dan beragam arah yg harus “mengganggu” perhatian, kita sering ogah berupaya menyelaraskan/ menyambungkan dalam “RASA & ARAH” yang baru, karena lansung sakit hati karena diremehkan…
Bangsa yang cacat mental ? oops … lebih baek enggak sekasar itu kondisinya, barangkali bener juga celetukan bung Budiarto Shambazy, bangsa kita ini terlalu sering, dan menunggu dikte, kita harus lebih banyak berani bersakit-sakit belajar berkomunikasi sambung rasa… bukan hanya rasa-rasa yang berkuasa saja, tapi rasa-rasa ”suka & sakit” pihak lain, bakal bikin hidup lebih cerdas dan berwarna bukan?