Oleh: qnoyzbewizer | 29 April 2008

Sel Surya Gagal Komersial >> Kema(L)uan Pemerintah NOL?

Basi campur curious juga sebetulnya kalo baca berita semacam dibawah… gw sepenuhnya yakin kok dari dulu, kalo orang indonesia itu IQ + Creative levelnya kaga pernah “jongkok” ! Kalo dibuat putus asa sih memang ga ada abisnya… Dari soal dijajah senjata “bule”, sampai feodalisme prijaji bangsa sendiri, lalu macam-macam ideologi & mekanisme yang ga pernah tuntas memang bisa jadi bikin parah sindrom inferior kita ajah :(

Apakah latar belakang itu memang menjelaskan ada yang selalu “salah” sama model komunikasi  antara incumbent sama komunitas sejak dulu kala yaks ?! :x

Apakah memang hasil-hasil penelitian anak negeri itu tidak pernah memenuhi skala ekonomi dalam implementasi nya ? Plus minimnya konsep pengembangan hulu hilir yang ikut dalam produk sains mereka? Sehingga pemilik modal pun enggan mandiri dalam kepedulian mengangkatnya dalam bisnis nyata?

Ataukah memang begitu mahalnya inisialisasi politik incumbent dalam proses sosialisasi produk sains anak negeri seperti ini ?

Yah jawaban ilmiah sangat perlu systemic thinking yang komprehensif , dan memang gak sekadar “nyeloteh” doang dimedia chiefs… harus ada “nyali” positif yang menyirami anak negeri…

Gw jadi inget sebuah celetukan kawan yang inspirasional, katanya… ehm hmm Indonesia ini memang negeri “kaya”, dan tidak terlalu sedikit juga warganya yg sangat berlebihan dalam “kepintaran” ; “kekayaan” dan/ atau “kekuasaan” nya, masalah nya hanya… terlampau sedikit… yah itu lah sangat sedikit yang benar-benar mau “berbagi” … itu saja …

simple reason… but surely we’re damned :(
God please forgive us … amin

Wassalam
qnoyz_bewizer
 
albums: http://profiles.friendster.com/qnoyzbewizer
klip inspirasi: http://qnoyzone.blogdetik.com
blog tulisan: http://qnoyzbewizer.wordpress.com
english clips: http://qnoyzone.multiply.com


Sel Surya Gagal Komersial
Pemerintah Tidak Punya Kemauan
Selasa, 29 April 2008 | 01:26
WIB

Jakarta, Kompas – Riset dan pengembangan teknologi sel surya sebagai sumber
energi listrik terbarukan oleh LIPI gagal menuju komersialisasi. Mengantisipasi
krisis energi karena harga minyak terus melambung, LIPI beralih fokus pada riset
dan pengembangan sel bahan bakar dengan gas hidrogen.

”Teknologi sel surya tidak bisa secara penuh menggantikan bahan bakar minyak.
Masih butuh teknologi baterai yang lebih efisien untuk menyimpan energinya,”
kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie kepada
Kompas, Senin (28/4) di Jakarta.

LIPI sejak tahun 1980 menetapkan riset dan pengembangan sel surya untuk
mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi (listrik) dari sumber energi
terbarukan. Sel surya butuh sumber energi sinar matahari sebagai sumber
terbarukan itu.

Salah seorang peneliti sel surya dari Pusat Penelitian Elektronika dan
Telekomunikasi LIPI, Ika Hartika Ismet, di Bandung ketika dihubungi kemarin
menyatakan, sel surya sudah diteliti sampai tingkat efisiensi 10 persen dalam
mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Standar efisiensi untuk bisa
diproduksi komersial minimal 12-14 persen.

Tak ada kemauan

Menurut Ika, selama ini tidak ada kemauan pemerintah untuk mengaplikasikan
dan mengomersialisasikan sel surya secara serius sehingga Indonesia ketinggalan
dibandingkan Singapura atau Malaysia. ”Saya merasa tua di laboratorium. Tetapi,
hasil riset dan pengembangan sel surya hanya berjalan di tempat,” katanya.

Untuk meningkatkan efisiensi dari 10 persen menjadi 12-14 persen tidaklah
sulit. Menurut Ika, dibutuhkan perlengkapan plasma-enhanced chemical vapor
deposition dengan harga di bawah 1 juta dollar AS.

Selain itu, secara teknis pembentuk sel surya berupa wafer silicon
multikristal dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 0,3 mm harus ditingkatkan, dari
lifetime electron 1-1,5 mikro sekon (µsec) menjadi 5 µsec.

”Peningkatan kemampuan itu tidak butuh biaya yang tinggi, tetapi sampai
sekarang tidak pernah ada investasi pengembangan sel surya,” kata Ika.

Menurut Umar, tidak hanya kelengkapan teknologi sel surya yang masih
menghadapi kendala, tetapi faktor pendukung seperti baterai sebagai penyimpan
arus listrik yang dihasilkan dari pengubahan sinar matahari tersebut sampai
sekarang belum diperoleh teknologi yang optimal.

Akibat gagalnya sel surya, LIPI sekarang memfokuskan diri pada pengembangan
teknologi sel bahan bakar. ”LIPI telah mengembangkan pembuatan membran sebagai
media reaksi hidrogen dengan oksigen untuk menghasilkan energi,” ujar Umar.

Saat ini di beberapa negara seperti China sudah dikembangkan jenis kendaraan
dengan sumber bahan bakar gas hidrogen dengan limbah paling ramah lingkungan,
yaitu air murni.

LIPI sekarang mengembangkan kendaraan marlip (singkatan dari marmut listrik
LIPI)—semula berbahan bakar listrik dari baterai, sekarang akan diganti dengan
gas hidrogen. (NAW)


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori